Mempertahankan Iman untuk Menyampaikan Kabar Keselamatan REFLEKSI TAMBAHAN KHOTBAH MINGGU GBKP 06 APRIL 2025
PENDAHULUAN
Minggu Passion VI atau
Minggu Judika mengingatkan kita pada perjalanan penderitaan Kristus yang
semakin dekat menuju salib. Dalam konteks ini, kita diajak untuk merenungkan
bagaimana mempertahankan iman di tengah tantangan serta tetap setia dalam
menyampaikan Kabar Keselamatan. Filipi 1:27-30 mengajarkan bahwa kehidupan
orang percaya harus sesuai dengan Injil Kristus, tanpa gentar menghadapi
penderitaan, karena penderitaan demi iman adalah bagian dari anugerah Allah.
Hal ini selaras dengan pengalaman Hiskia (2 Raja-Raja 20:4-6) yang menghadapi
kesesakan namun tetap berseru kepada Tuhan, serta keyakinan pemazmur dalam
Mazmur 119:111 yang menyatakan firman Tuhan sebagai milik pusaka yang menjadi
kegembiraan hati.
1. Kebenaran dan
Militansi Iman
Filosofi iman Kristen
berakar pada kebenaran yang absolut dalam Kristus. Dalam pemikiran filsafat,
khususnya dari perspektif eksistensialisme, iman bukanlah sekadar konsep,
melainkan realitas yang harus diperjuangkan. Søren Kierkegaard menekankan bahwa
iman membutuhkan lompatan keberanian, suatu tindakan radikal dalam menghadapi
ketidakpastian dunia. Filipi 1:27 menegaskan bahwa umat Kristen harus hidup
dengan penuh integritas sebagai warga kerajaan Allah, yang berarti berani
mempertahankan iman sekalipun menghadapi perlawanan.
Seperti Hiskia yang
tetap bersandar pada Tuhan di tengah ancaman kematian, kita pun dipanggil untuk
meneladani keteguhan hatinya. Militansi iman bukanlah tentang fanatisme buta,
melainkan keteguhan hati dalam berpegang pada kebenaran Kristus. Dengan demikian,
membela iman bukanlah pilihan, tetapi panggilan yang menuntut ketegasan sikap.
2. Tantangan dan
Kesaksian di Tengah Masyarakat
Dalam konteks sosial,
mempertahankan iman berarti menampilkan teladan hidup yang sesuai dengan Injil.
Dalam masyarakat yang semakin sekuler dan plural, tantangan terbesar bukan
hanya penolakan terang-terangan, tetapi juga sikap kompromi yang mengikis nilai-nilai
iman. Paulus dalam Filipi 1:28 menegaskan agar orang percaya tidak takut
terhadap lawan mereka. Ketakutan adalah alat dunia untuk melemahkan militansi
iman, tetapi keyakinan akan penyertaan Tuhan memberi kita keberanian.
Mazmur 119:111 menyebut
firman Tuhan sebagai milik pusaka. Dalam masyarakat yang semakin dipengaruhi
relativisme moral, firman Tuhan harus tetap menjadi warisan iman yang dijaga
dan diteruskan. Tantangan sosial seperti diskriminasi, marginalisasi, atau bahkan
penganiayaan terhadap iman Kristen bukan alasan untuk mundur, tetapi justru
menjadi peluang untuk menunjukkan keteguhan dalam Kristus.
3. Kekhawatiran dan
Pengharapan dalam Militansi Iman
Secara psikologis,
mempertahankan iman dalam menghadapi kesulitan sering kali memunculkan
kecemasan dan ketakutan. Hiskia dalam 2 Raja-Raja 20 mengalami ketakutan yang
manusiawi saat menghadapi ancaman kematian. Namun, tangisannya kepada Tuhan
menunjukkan bahwa iman sejati tidak menyangkal ketakutan, tetapi mengarahkannya
kepada Tuhan sebagai sumber kekuatan.
Dalam psikologi, konsep
resilience (ketahanan mental) sangat relevan. Orang percaya dipanggil
untuk memiliki daya tahan spiritual yang memungkinkan mereka tetap teguh di
tengah badai kehidupan. Filipi 1:29 menyatakan bahwa penderitaan bagi Kristus
bukanlah beban yang sia-sia, melainkan bagian dari anugerah. Dengan memahami
ini, kita dapat menghadapi tekanan dunia dengan ketenangan dan pengharapan,
tanpa kehilangan sukacita dalam Kristus.
4. Iman yang Teguh di
Tengah Pergolakan Dunia
Di dunia politik,
mempertahankan iman dapat berarti menolak ketidakadilan, bersuara bagi
kebenaran, dan tidak tunduk pada tekanan yang bertentangan dengan prinsip
Kristen. Paulus menulis surat Filipi dari penjara, menunjukkan bahwa iman tidak
boleh dikondisikan oleh situasi eksternal. Militansi iman berarti berani
menegakkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk
dalam ranah politik.
Dalam sejarah, banyak
tokoh Kristen yang tetap teguh dalam iman meskipun berhadapan dengan kekuatan
politik yang menindas. Martin Luther King Jr., misalnya, tidak hanya
memperjuangkan kesetaraan ras berdasarkan prinsip Kristen, tetapi juga
menghadapi penderitaan karena imannya. Dalam konteks Filipi 1:30, penderitaan
bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari perjuangan iman yang membawa
perubahan.
Penutup : Menghidupi
Militansi Iman dalam Keseharian
Mempertahankan iman dan
menyampaikan Kabar Keselamatan bukanlah tugas yang mudah, tetapi merupakan
panggilan yang mulia. Minggu Passion VI mengajak kita untuk meneladani Kristus
dalam menghadapi penderitaan dengan keteguhan hati. Filipi 1:27-30 mengingatkan
bahwa kita tidak sendiri dalam perjuangan ini. Mazmur 119:111 memberi jaminan
bahwa firman Tuhan adalah pusaka yang harus kita pegang teguh, sementara kisah
Hiskia dalam 2 Raja-Raja 20:4-6 menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah
meninggalkan orang yang berseru kepada-Nya.
Dalam menghadapi dunia
yang semakin menantang, orang Kristen dipanggil untuk berani, tetap teguh dalam
iman, dan aktif menyatakan kebenaran Injil. Militansi iman bukanlah sekadar
pertahanan pasif, tetapi tindakan aktif untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan,
bersaksi dengan keberanian, dan tetap percaya bahwa Tuhan selalu menopang
orang-orang yang setia kepada-Nya. Dengan demikian, perjuangan iman kita
bukanlah sia-sia, melainkan bagian dari rencana besar Allah dalam membawa
keselamatan bagi dunia.
Komentar
Posting Komentar