Menjadi Pembawa Kabar Keselamatan: Sebuah Keteladanan dari Paulus dan Para Misionaris Bagi Orang Karo Kisah Para Rasul 26:19-23 dan Kisah Penginjilan di Desa Buluh Awar
Menyampaikan kabar
keselamatan bukanlah tugas yang mudah. Sejak zaman Paulus hingga kehadiran para
misionaris di berbagai belahan dunia, pemberitaan Injil selalu menghadapi
tantangan besar. Namun, mereka yang sungguh-sungguh taat kepada panggilan Tuhan
tidak mundur, melainkan melangkah dengan keyakinan.
Ketaatan dalam
Panggilan: Siapa yang Siap Pergi?
HC Kruyt, seorang
penginjil, pernah mengajak para Guru Injil untuk memberitakan kabar baik di
Desa Buluh Awar. Awalnya, 50 orang dengan bersemangat menyatakan kesediaan
mereka. Namun, ketika realitas medan pelayanan disampaikan—kesulitan hidup,
tantangan budaya, bahkan ancaman bahaya—hanya 7 yang masih mengangkat tangan.
Dari 7 itu, 2 di antaranya masih ragu, hingga akhirnya hanya 5 orang yang
benar-benar siap berangkat.
Panggilan Tuhan selalu
terbuka bagi banyak orang, tetapi tidak semua berani berkata “ya” dengan
sepenuh hati. Paulus adalah salah satu contoh orang yang tidak menolak
panggilan surgawi. Dalam Kisah Para Rasul 26:19, ia berkata, "Karena
itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku
tidak taat." Paulus tahu bahwa menaati panggilan Allah bukan sekadar
tentang bersedia, tetapi juga tentang kesetiaan menjalani setiap tantangannya.
Bagaimana dengan kita?
Ketika Tuhan memanggil kita untuk menjadi terang di keluarga, tempat kerja,
atau lingkungan sekitar, apakah kita berani berkata "ya" tanpa ragu?
Melampaui Batas untuk
Kabar Baik
Penginjilan bukan hanya
tentang menyampaikan kabar keselamatan dengan kata-kata, tetapi juga dengan
tindakan kasih yang nyata. Misionaris kedua di Buluh Awar, JK Wingjggarden,
menghadapi realitas budaya yang keras: seorang anak bernama Tundakais dianggap
pembawa sial dan harus disingkirkan. Namun, ia tidak membiarkan anak itu
dikecam oleh tradisi. Dengan penuh kasih, ia membaptis anak itu dan memberinya
nama baru—SANGAP—sebagai tanda bahwa ia kini menjadi bagian dari keluarga
Allah.
Paulus pun melangkah
melampaui batasnya. Ia tidak hanya memberitakan Injil di antara orang-orang
Yahudi, tetapi juga kepada bangsa-bangsa lain. "Aku memberitakan kepada
orang-orang di Damsyik dahulu, kemudian di Yerusalem dan di seluruh tanah
Yudea, serta kepada bangsa-bangsa lain juga..." (Kisah Para Rasul
26:20).
Sering kali, kita
merasa nyaman hanya berbuat baik kepada orang-orang yang sudah kita kenal. Tapi
panggilan untuk memberitakan Injil menuntut kita melampaui batas kenyamanan
kita. Siapkah kita menjangkau mereka yang tersisih, yang berbeda dari kita,
atau yang dianggap tidak layak oleh dunia?
Bertahan dalam
Tantangan
Setiap orang yang
memilih hidup bagi Kristus pasti akan menghadapi tantangan. Para misionaris bagi
orang karo tidak hanya menghadapi kesulitan dari medan pelayanan, tetapi juga
kecurigaan dari masyarakat setempat dan perbedaan pandangan di antara
rekan-rekan sepelayanan mereka. Namun, mereka tetap bertahan.
Begitu pula Paulus. Ia
mengalami penganiayaan, bahkan hampir dibunuh karena imannya. "Karena
itulah orang-orang Yahudi menangkap aku di Bait Allah dan mencoba membunuh aku.
Tetapi oleh pertolongan Allah aku masih hidup sampai hari ini..."
(Kisah Para Rasul 26:21-22).
Dalam hidup kita, ada
banyak tantangan yang bisa menggoyahkan iman: tekanan dari lingkungan,
ketakutan akan penolakan, atau bahkan keraguan dalam diri sendiri. Namun, kisah
Paulus dan para misionaris ini mengajarkan bahwa ketekunan dalam iman akan
selalu mendapat pertolongan dari Tuhan.
Keteladanan yang
Membawa Perubahan
Pemberitaan Injil tidak
cukup hanya dengan kata-kata. Kehidupan kita sendiri harus menjadi kesaksian.
Laporan Pdt. EJ Van Den Berg (1893-1918) mencatat bahwa banyak orang yang telah
dibaptis di Tanah Karo, tetapi mereka malas datang ke gereja. Salah satu
penyebabnya adalah karena mereka melihat orang-orang Belanda sendiri tidak
menjadi teladan dalam kehidupan rohani mereka.
Paulus mengingatkan
kita dalam Kisah Para Rasul 26:23 bahwa Kristus, sebagai yang pertama bangkit
dari antara orang mati, bukan hanya memberitakan terang, tetapi menjadi
terang bagi bangsa-bangsa.
Sebagai pengikut
Kristus, kita dipanggil bukan hanya untuk mengajar, tetapi juga untuk menjadi
contoh. Apakah kehidupan kita sudah mencerminkan kasih, kebenaran, dan
kesetiaan yang kita sampaikan? Apakah ada orang yang bisa melihat Yesus melalui
cara kita hidup?
Refleksi: Apa yang Akan
Kita Lakukan?
Kisah Paulus dan para
misionaris bagi orang Karo bukan sekadar cerita sejarah. Ini adalah cerminan
dari tantangan yang masih kita hadapi hingga hari ini.
1.
Apakah kita sungguh-sungguh taat
pada panggilan Tuhan, atau masih ragu ketika menghadapi kesulitan?
2.
Apakah kita bersedia menjangkau
mereka yang dianggap "tidak layak" oleh dunia?
3.
Bagaimana kita merespons tantangan
dalam hidup kita? Apakah kita tetap bertahan seperti Paulus dan para
misionaris?
4.
Apakah kita sudah menjadi teladan
dalam kehidupan kita, sehingga orang lain bisa melihat Kristus melalui kita?
Menyampaikan kabar
keselamatan bukanlah tugas yang mudah. Tetapi bagi mereka yang percaya, inilah
panggilan mulia. Biarlah kisah ini menginspirasi kita untuk melangkah dengan
iman—taat, berani melampaui batas, bertahan dalam tantangan, dan hidup sebagai teladan
bagi dunia.
"Sebab kami tidak
dapat berhenti berbicara tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami
dengar." (Kisah Para Rasul 4:20)
Siapkah kita menjadi
pembawa kabar keselamatan?
Komentar
Posting Komentar